Ketika Jalan- Jalan Dikuasai Politisi

Munculnya Abraham Samad dari peringkat 5 seleksi Pimpinan KPK menjadi 4 besar sekaligus Ketua KPK terbaru, mengejutkan banyak pihak.

Mengenai kinerjanya — tentu harus diberi kesempatan. Karena tidak fair menghakimi seseorang yang baru akan memulai pekerjaan.

Tetapi yang paling menarik adalah munculnya kenyataan bahwa apa yang ada di benak dan pikiran politisi seringkali berbeda dengan logika intelektual (yang tergabung di pansel) dan nalar publik.

Partai politik dan politisi yang memperoleh kekuasaan karena klaim “pembawa aspirasi” ternyata bermain di ruang kedap suara. Ini untuk kesekian kalinya — suara publik justru mentok di Gedung Wakil Rakyat.

Lalu siang ini di twitter, menikmati pidato brilian Anies Baswedan — tokoh muda yang memang berpikiran cerdas dan bernas. Banyak yang beberapa di antara penikmat twitter menyebutnya sebagai tokoh ideal sebagai presiden.

Saya setuju — dan memimpikan hal yang sama. Tetapi perjalanan menuju kursi presiden tidak mudah. Panjang, butuh biaya dan kerja keras. Tak lupa di ujung jalan itu, para politisi telah menunggu. Dan seringkali mereka bukan hanya merebut tapi juga membelokkan impianmu.

Singsingkan lengan, hentikan pidato, ambil cangkul dan mari merebut jalan-jalan itu. Berpolitiklah….

¤¤¤

3 Des

Lalu Apakah Pembangunan Itu ?

‎20 tahun lalu orang naik kereta di atapnya. Kini —- ribuan orang masih bertaruh nyawa setiap paginya. Lalu kalian terus saja bicara pembangunan….. Mengantar banyak orang memasuki daftar orang-orang kaya baru…., tetapi semakin banyak orang berjudi dengan nyawanya di atas kereta.

Lalu apa yang kau maksud dengan pembangunan itu ?

 

 

 

 

 

 

** Foto saya ambil dari twitter Mas @nukman

Kesendirian, Kekalahan, dan Kematian

Kompas Cetak hal 31 hari ini memberitakan adanya perdebatan sengit di parlemen Jepang karena kekalahan Timnas Jepang dari O-1 Korea Utara saat laga tandang di Stadion Kim Il Sung 15 November 2011

Parlemen Jepang menyoroti perlakukan tuan rumah yang tidak fair sehingga timnas mereka kalah, walaupun itu tidak lagi mempengaruhi posisi Jepang yang sudah memastikan lolos ke babak berikutnya dalam penyisihan Pra Piala Dunia Brasil 2014.

Parlemen Jepang — sepertinya mengerti betul apa yang dinamakan hajat hidup masyarakatnya. Sepakbola sama dengan di bangsa-bangsa lainnya menjadi harapan dan kebanggaan banyak rakyat Jepang. Sepakbola menjadi saluran kebanggaan dan mungkin halusinasi superioritas antar bangsa.

Hajat Elit dan Bukan Rakyat

Kontras dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia. Kekalahan di final AFF dari Malaysia, berlanjut di Final Sea Games 26 juga dari tim Harimau Malaya — tidak menyisakan upaya perbaikan terhadap sepakbola nasional yang juga telah menjadi hajat hidup banyak orang.

Saat airmata kekalahan belum kering, kita dipertontonkan kisruh kompetisi di sepakbola kita. Ada tarik menarik dan adu kepentingan yang berjalan tanpa perhatian yang cukup dari pemerintah —- sehingga panggung sepakbola kita sudah tidak berbeda dengan panggung politik di DPR. Semua sibuk memenangkan ego kelompok — menaruh apa yang namanya kebanggaan dan hajat hidup orang banyak di laci terdalam.

Susah sekali membuat elit-elit ini tersadar, atas apa yang dinamakan hajat hidup, kepentingan rakyat dan orang banyak. Mereka tidak sadar, kepentingan publik itu harus diperjuangkan — dijaga dan tidak hanya direbut saat mereka berkepentingan di setiap pemilihan.

Musim Lepas Tangan

Dan lihatlah — saat Jembatan di Kutai Kartanegara roboh, dan puluhan rakyat meninggal tenggelam sia-sia. Ramai-ramai semua lepas tangan, atas tidak terjaganya kepentingan publik. Penguasaan atas hajat hidup orang banyak dilepas saat terjadi kesalahan yang memerlukan tanggung jawab, saat memerlukan kerja dan pengorbanan.

Tetapi — saat apa yang dinamakan hajat hidup orang banyak , panggung kemenangan menuju kepada tanda-tanda kejayaan — elit-elit ini berebut menguasai, mengambil alih, dan tidak lupa melakukan klaim. Betapa hangatnya para tokoh politik menjamu para pemain dan ofisial, saat timnas moncer dan menjanjikan kemenangan. Semua tiba-tiba cinta sepakbola.

Saat Jembatan Kukar selesai dan dinobatkan sebagai “Golden Gate Indonesia ” semua melakukan selebrasi dan iklan besar-besaran. Tetapi lihatlah Headline Kompas cetak hari ini juga, 30 November 2011 — ketika “Golden Gate” ini runtuh semua yang dulu melakukan klaim, menikmati uang pembangunan, tidak ada satu pun yang bertanggung jawab.

Maka saat ada kekalahan, kesedihan, dan kematian sia-sia , rakyat, pemain, penonton, dan kita semua — sendiri dan kesepian.

¤¤¤

30 Nov.

Kebun Koruptor Dan Umpan Panjang

 

Pak Mahfud MD mengusulkan didirikannya kebun koruptor, untuk menimbulkan efek jera bagi koruptor. Ini ide yang pasti “sukses” jika ditujukan untuk meraih perhatian publik. Tetapi utopis, sekaligus mempermalukan bangsa jika benar dilaksanakan. Memalukan — karena di tengah semua bangsa lain yang sedang memperbaiki peradaban termasuk cara menghukum orang bersalah , kita malah ingin menyamakan mereka dengan binatang :)

Mari bersama-sama kita bayangkan, visualisasi kebun koruptor. Mungkin layaknya kebun binatang, koruptor- koruptor akan dikerangkeng — mungkin dengan baju yang berdesain mentereng, sekaligus kakinya dirantai besi pemberat — lalu kebun ini terbuka untuk umum. Tujuannya maksimal : memberi efek jera dengan mempermalukan dan merendahkan koruptor di depan publik.

 

 

 

 

 

Ada yang mengatakan, ide Mahfud MD mengemuka karena frustasi belum terlihatnya tanda-tanda praktek korupsi menurun — bahkan setelah KPK didirikan dan massif melakukan penangkapan.

Ada dua hal yang menurut saya terlewat oleh Pak Mahfud sehingga buru-buru melontarkan gagasan kebun koruptor.

  • Korupsi karena berlangsung sekian lama — bahkan secara akar budaya ditemukan dalam praktek kehidupan kita yaitu adanya upeti dan saling sumbang dalam hajatan. Tidak mungkin dihilangkan dengan hentakan-hentakan sesaat. KPK adalah bagian dari ikhtiar membongkar budaya kurang baik ini.
  • Gerakan ad hoc — shock therapy akan berhasil dengan mensyaratkan tools dan pelaksana yang kredibel. Gebrakan KPK — Satgas Anti Mafia Hukum kurang memberi efek jera karena secara telanjang banyak pihak meyakini “beberapa kasus” tidak tertangani dengan baik.

Ini khas Indonesia hari ini. Kita malas berpikir jangka panjang, kurang sabar dalam menghadapi tekanan, dan bernafsu memperoleh hasil instan. Akan lebih mudah memahami kalimat ini, jika kita melihat permainan timnas sepakbola. Ketika upaya umpan satu dua mentok, long passing ke depan gawang lawan memang menjadi solusi :)

 

 

 

 

 

Beberapa kali ujicoba umpan panjang  terutama melawan tim lemah seperti Kamboja di Sea Games 26 memang membuahkan hasil, tetapi melawan tim yang disiplin menjaga pertahanan kita bukan hanya kesulitan tetapi gagal membongkar.

Kata komentator bola, kemenangan sangat penting karena itulah tujuan sebuah pertandingan. Tetapi skema permainan yang benar lebih menjamin memenangkan turnamen tidak sekedar pertandingan semata.

 ***

28 Nov 2011

Robohnya Jembatan Kami

Sore itu mungkin warga Tenggarong sedang merencanakan liburan akhir pekan yang indah. Sama seperti keluarga-keluarga di kota-kota lainnya.

Saat beberapa keluarga, berada di atas jembatan — yang megah dan diyakini sebagai Golden Gate itu — sekonyong-konyong jembatan ambrol. Puluhan mobil dan motor menghujam ke sungai Mahakam berkedalaman puluhan meter.

Lalu hingga pagi ini, 5 korban meninggal dan puluhan korban luka ditemukan. Kedukaan dan kemarahan menyebar cepat.

Kita bisa bilang setiap kematian adalah kehendak Tuhan. Tapi kematian di atas jembatan berusia 10 tahun yang dibangun dengan dana ratusan milyar milik rakyat — mungkin juga dari para korban itu, pantas membuat marah.

Jembatan selalu diharapkan menjadi penyambung, tetapi “Golden Gate ” Kutai Kartanegara yang juga menjadi landmark atas apa yang dinamakan keberhasilan pembangunan —- ternyata justru menjadi lokasi pertunjukan horor menakutkan.

Bau korupsi dan kurang baiknya kinerja pemerintah — justru kini dipertontonkan dari jembatan baja yang membentang kuat di atas sungai Mahakam ini.

Lalu kita diingatkan banyaknya sekolah yang juga roboh di banyak kota — beberapa hanya berjarak puluhan KM dari Bandung dan Jakarta.

Setelah robohnya sekolah dan kini jembatan — kesimpulan harus mulai ditebalkan. Di antara jargon-jargon dan mercusuar yang kita kumandangkan, selalu ada tikus-tikus dan sikap abai — yang lebih sibuk menggerogoti daripada memperbaiki — yang sibuk berkumandang dan tak benar-benar bekerja.

Jembatan emas itu telah roboh, dia memutuskan hubungan dua warga di seberang sungai Mahakam — tetapi dia justru semakin menebalkan harapan atas munculnya aparat-aparat yang bersih dan bekerja benar. Karena merekalah sesungguhnya jembatan masa depan.

¤¤¤

27 Nov

Menegakkan Konstitusi, Menenggang Perbedaan

Setiap hari Minggu, twitter selalu
dilintasi berita-berita tentang peribadatan jemaat GKI Yasmin.

Sekian lama masalah ini mengemuka, sampai kemudian muncul keputusan MA yang memperbolehkan jemaat GKI Yasmin melakukan ibadat di tempat yang dilarang oleh Walikota Bogor.

Tetapi ternyata Walikota Bogor bersikukuh tetap melarang, dan melawan keputusan MA. Akibatnya, setiap Minggu kita melihat para jemaat beribadat di trotoar jalanan.

Ini masalah sangat serius, dalam jangka pendek memang hanya mengganggu kenyamanan perasaan — tapi dalam jangka panjang bisa menggoyahkan sendi berbangsa dan bernegara.

Karena konstitusi jelas menjamin setiap warga negara menjalankan ibadat sesuai agama dan kepercayaan yang dianutnya, dan secara hukum MA juga telah memenangkan tuntutan jamaat GKI Yasmin — tindakan Walikota Bogor jelas merupakan subordinasi terhadap konstitusi dan pemerintah.

Pembangkangan Walikota ini, menjadi semakin akut — karena sejauh ini kita belum melihat statement apalagi pembelaan yang terukur dari pemerintah pusat terhadap jemaat GKI Yasmin.

Dengan gamblang kita bisa melihat saat Obama , dalam kondisi yang jauh lebih sulit membela pendirian Masjid di kawasan bekas tragedi 9 September 2011 — di mana pelakunya secara formal beragama Islam. Obama mengatakan — konstitusi Amerika membela perbedaan keyakinan — dan itu harus ditegakkan.

Ketika pembelaan terhadap konstitusi telah dilakukan, maka implementasi di lapangan tinggal mensyaratkan toleransi -tenggang rasa.

Toleransi ini kita tuntut bukan hanya muncul dari mayoritas, tetapi juga dari minoritas.

Jika pemerintah pusat — sampai kota Bogor telah menegaskan Jemaat GKI Yasmin sesuai konstitusi dan Keputusan MA berhak menjalankan peribadatan di lokasi itu, maka mereka berhak meminta jamaat GKI Yasmin dan masyarakat berunding untuk menemukan kesepakatan pelaksanaannya.

Tetapi, yang terjadi — secara hukum formal Jemaat GKI Yasmin tidak diposisikan menang sesuai keputusan MA — sehingga akibatnya yang dinamakan kesadaran masyarakat, dan toleransi — sulit sekali muncul. Jika elit-aparatur negara gagal mengambil peran keteladanan, maka mengharapkan hal baik muncul sebagai kesadaran itu sangat sulit.

Jika di Bogor, yang hanya puluhan KM dari Jakarta kita gagal menjaga amanat konstitusi, dan keputusan hukum. Maka sesungguhnya kita sedang menunggu munculnya anarkisme di pelosok-pelosok negeri. Sedikit berlebihan — tetapi itu bukan kemustahilan.

¤¤¤

Jaket Moral

ini tentang seorang politisi muda yang sangat aktif berjuang di masyarakat…

setiap kali ke Jakarta, dia sangat menikmati kebebasannya dan terlihat sangat lepas menjalani dunia gemerlap Jakarta…

Suatu ketika saya bertanya tentang kegemarannya itu…

” aku ini khan sudah bekerja keras…, memikirkan masyarakat, membantu mereka…wajar donk kalau butuh hiburan “

Ketika saya tanyakan …bagaimana kalau konstituennya tahu perilakunya, khan di Indonesia urusan moral-moral begini masih sangat penting bagi politisi.

“Itukan gampang…, kalau sudah turun dari pesawat atau kereta ya…kembali lagi jadi orang baik…, begini2 khan kalau di luar kota aja.”

Hm, bener juga dalam hati saya….logis…:)

Akhirnya setiap kali dia telp mau ke Jakarta…tak lupa saya mengingatkannya untuk menitipkan motor sekaligus jaket moralnya ke stasiun. Jadi selepas kotanya dan selama di Jakarta dia boleh tidak bermoral…, nanti pas pulang…tinggal ambil di penitipan…dipakai lagi tuh jaket…beres :)

Sesimpel itu dia melihat persoalan…, tidak munafik, tidak njlimet…

Jakarta Tumbuh Tapi Tidak Semakin Dewasa

Pagi ini, melihat berita di televisi tentang meninggalnya seorang pelajar SMK, karena pengeroyokan antar pelajar yang juga melukai 2 pelajar lainnya.

 

Sehari sebelumnya, saat terpaksa harus naik ojek untuk mengejar waktu janjian — saya melihat pemandangan yang sebenarnya biasa tiap musim hujan akhir tahun. Kemacetan di mana-mana.

Kemacetan di Jakarta bukanlah hal luar biasa, apalagi di musim hujan. Yang luar biasa justru lambatnya respon pemerintah, karena fenomena ini telah berjalan hampir satu dekade.

 

Pemerintah bukanlah tidak berupaya, pembangunan Busway, banjir kanal adalah bagian dari penyelesaian keruwetan Jakarta saat banjir.

Tetapi sesungguhnya itu semua laksana minum pengurang rasa sakit. Tetapi tidak menghilangkan rasa sakit itu sendiri.

Pertumbuhan jumlah kendaraan, dengan semakin naiknya income warga dan mudahnya persyaratan memiliki kendaraan —- terus menumpahkan gerobak-gerobak besi ini di jalanan ibu kota.

 

Kualitas transportasi yang buruk, membuat perjalanan di Jakarta memberikan stress luar biasa buat warganya. Walaupun keributan pelajar — jauh dari disebabkan langsung oleh keruwetan jalanan, tetapi tekanan hidup akibat infratruktur kota yang berat ini pasti berujung kepada perilaku beringas warga dan anak-anaknya — para pelajar itu.

Jika sebuah kejadian luar biasa sudah berlangsung bertahun-tahun, maka diperlukan langkah luar biasa juga untuk menghentikannya. Kecuali kita membiarkan Jakarta terus tumbuh dengan semakin meninggalkan syarat menjadi kota yang manusiawi untuk warganya.

¤¤¤

25 Nov

Menafsirkan Pernikahan

… dalam setahun ini, kita disuguhi 3 pernikahan keluarga pembesar yang cukup menyita perhatian publik.

Pernikahan Pangeran William di Inggris, Pernikahan putri bungsu Sultan HB-X di Yogyakarta, dan Pernikahan Ibas dan Aliya di Istana Cipanas.

 

 

 

 

 

 

 

Pernikahan Ibas dan Aliya menjadi bahan ulasan panjang lebar — jauh meninggalkan proses intinya sebagai prosesi pengukuhan secara formal  dari hukum agama dan negara atas dua sejoli yang saling jatuh cinta.

 

 

 

 

 

Ibas dan Aliya kurang beruntung — dalam beberapa hal :

  • Pernikahannya dituding politis, karena terlahir dari Bapak yang kini dua-duanya Ketua Umum Partai Politik.
  • Pernikahannya ditakutkan berhimpitan dengan penggunaan fasilitas negara, karena dua-duanya anak pejabat utama di Kabinet Indonesia  Bersatu II
  • Pernikahannya dituding terlalu mewah, apalagi jika dikaitkan dengan kenyataan banyaknya rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Di moment seperti ini, seharusnya para orang tua mereka harus membuat pernyataan untuk keluar dari kerumunan. Menyatakan setinggi apapun jabatan, sebesar apapun kekuasaan — akhirnya mereka adalah orang tua yang ingin juga punya capaian kecil di keluarga — mengantarkan anak-anak ke jenjang pelaminan dan melepas mereka dalam kehidupan.

 

 

 

 

 

Sayang Pak SBY selalu salah menjawab publik, malah (lagi-lagi) sibuk menjamin tidak akan bolos, tidak akan menggunakan fasilitas publik, blalala…

Bapak Presiden yang saya hormati…., terlepas banyaknya ketidakcocokan atas kepemimpinanmu, di hari yang bahagia ini nikmatilah hari-harimu…

Jadilah Bapak dan orang tua yang baik, mencintai dan membahagiakan anak-anak kebangganmu, sama seperti hak yang dimiliki keluarga-keluarga sederhana dari Bantar Gebang hingga Pondok Indah, dari Tanjung Priok hingga Menteng.

Aliya dan Ibas selamat menempuh hidup baru…., semoga cinta membahagiakan kalian.

 

** 24 November **

Ketika Sepak Bola Menjadi Harapan…

Terbius oleh eforia sepakbola nasional…, saya kembali senang dan berharap mengikuti perkembangan sepakbola nasional.  Sebenarnya sejak 2004 saya sudah mulai aktif hadir di Senayan, tetapi karena kekalahan 1-3 melawan Singapura saat pertandingan kandang Piala AFF 2004, harapan yang dipupuk lama kepada timnas kembali hilang.

 

 

 

 

 

 

Gairah terhadap sepakbola nasional kembali muncul saat timnas ditangani Alfred Riedl. Permainan timnas yang dipimpin Bambang Pamungkas dan Firman Utina sepertinya menumbuhkan harapan bisa kembali berjaya minimal di kawasan ASEAN.

 

 

 

 

 

 

Tetapi lagi-lagi harapan tinggal harapan, timnas kembali kalah dari Malaysia di pertandingan tandang di Kuala Lumpur justru saat posisinya diunggulkan. Perih sekali rasanya melihat kita main tanpa irama dan dihajar 0-3 tanpa balas oleh malaysia. Tetangga yang justru beberapa tahun terakhir sering memainkan “kebanggaan” kita sebagai bangsa.

Menemani Garuda Muda

Harapan paling baru muncul saat timnas U-23 menunjukkan permainan dan talenta yang memikat selama Sea Games 26 di Jakarta. Saya dan juga masyarakat, sepertinya yakin betul dahaga sekian lama akan tertuntaskan kali ini. Hampir 20 tahun tanpa prestasi juara. Tapi lagi-lagi di tengah dukungan hampir 100 ribu penonton di Senayan dan puluhan juta rakyat lewat siaran langsung televisi, timnas u-23 kembali ditaklukan lawan. Dan lagi-lagi Malaysia.

Periiiih, kecewa, dan marah. Apalagi sepanjang turnamen ini Garuda dua kali dikalahkan harimau Malaya. Walaupun di pertandingan akhir penyisihan Coach Rahmad Darmawan , terlihat melepas karena sudah aman posisi di semifinal.

Entah kenapa , kekalahan kali ini betul-betul menyesakkan dada. Ini kekecewaan terbesar yang saya alami sepanjang hidup, bahkan jauh lebih besar dibandingkan saat tidak naik kelas zaman SMA. Saya yang dua kali ke Senayan selama Sea Games, menangkap dengan jelas raut-raut muka penuh harap atas prestasi timnas sepakbola.

 

 

 

 

 

Melihat banyak penonton menangis berbalut merah putih, dan kesadaran atas beratnya hidup sehari-hari mereka…. membuat saya semakin yakin —- sepakbola— adalah taman hiburan buat sebagian besar kita.

Untuk bersenang-senang dan melamunkan hal-hal indah, yang belum kita temui di realita kehidupan. Kemenangan dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa merdeka..

Akan terus bersabar menunggumu Garuda Muda…, kali ini tidak akan pernah lagi berhenti berharap…sekecewa apapun.

23 nov 2011